Archive

Archive for the ‘Resensi’ Category

Acer 4745G Review

October 5, 2011 6 comments

Terkait dengan posting Akhirnya kupilih dia dimana saya memutuskan untuk membeli Acer Aspire 4745G, saya ingin sedikit mereview Laptop yang telah saya miliki hampir setahun ini.

Overal, saya suka. Suka sekali. Karena ambisi saya untuk bermain game yang saya inginkan dapat terlaksana. Football Manager 2011, Call of Duty, Pro Evolution Soccer 2011, Assasin’s Creed, Dragon Age, Star Wars: The Force Unleashed , Oblivion adalah beberapa game yang saya coba mainkan. Laptop ini dapat memuaskan saya dalam memainkan game-game tersebut. Spesifikasinya cukup untuk setidaknya bermain dalam mode medium. Bahkan PES 2011 sering saya mainkan dengan resolusi high dan tetap mantap, meski dari segi memory (RAM) kadang-kadang terjadi lag karena 2 GB dikatakan poor oleh sistem analisa bawaan PES 2011.

Read more…

Categories: Resensi, Tekno

Akhirnya Kupilih Dia (3 – akhir)

December 12, 2010 1 comment

Setelah memutuskan untuk membeli netbook, menemukan yang terbaik menurut saya, lalu kecewa mendapati bahwa pilihan saya hanya akan menjadi idaman yang tidak tersedia di toko, saya bingung. Memutuskan untuk menghentikan sejenak pemikiran tentang PC desktop, laptop, atau netbook. Lalu terjadilah kejadian ini:

Hari itu senin pagi, bertempat di jalan alternatif Bangli – Tulikup, tepat di perbatasan wilayah Bangli-Gianyar yang ditandai oleh sebuah jembatan, saya terjatuh. Saya akui saya mengebut dan sedikit melamun, dan ketika jalan yang tadinya aspal mulus berubah menjadi berkerikil, spontan saya mengerem sepeda motor, menjadi tidak stabil, berkelok-kelok nyaris tak terkendali, masih sempat berfikir untuk jatuh di tanah saja. Dan, yang saya ingat memang Read more…

Akhirnya Kupilih Dia (2)

December 10, 2010 Leave a comment

Ya, saya tetapkan hati untuk membeli netbook saja (untuk saat itu, hehe). Lagi-lagi saya mencari di situs toko online terkenal di Indonesia, tetapi blum ada yang cocok banget. Lalu saya cari di beberapa situs internasional, blog-blog review laptop luar negeri. Mencari netbook yang kecil tapi keyboardnya tetap nyaman untuk mengetik, grafiknya bagus tapi  baterai tahan lama, harganya pas dan performa memuaskan. Kemudian saya menimbang antara kedua netbook dibawah ini:

Acer Aspire 1410

1.4GHz Intel Core 2 Solo SU3500 processor,

2GB of RAM,

a 250GB hard drive,

Bluetooth, and 802.11a/b/g/n WiFi,

baterai a 6 cell, 4400mAh

Read more…

Akhirnya Kupilih Dia (1)

November 20, 2010 2 comments

Awalnya saya ingin membeli sebuah ‘desktop PC’ untuk anak saya, Tara bisa bermain-main. Karena dia masih kecil, 1 tahun 8 bulan, asumsi saya komputer ini harus tahan banting, keyboardnya kadang akan mengalami ‘siksaan’ demikian juga mouse dan monitornya tidak akan luput dari perlakuan yang tidak wajar. Hehe…

Sebelumnya saya kami memakai IBM Thinkpad R51 yang menjadi bintang di eranya dan masih sangat handal sampai saat ini. Ia dapat memainkan NFS Most Wanted, Fable The Lost Chapter, Gothic II, Hitman 2, PES 6 dan beberapa game sejenis. Memang bukan game high end terbaru, tapi bagi saya game-game diatas sudah cukup menghibur. Demikian juga bagi istri saya yang sudah cukup puas dengan memainkan game-game GameHouse, PopCap dan sejenisnya.

Read more…

Lars and the Real Girl dan Dan in Real Life

February 20, 2009 1 comment

Keduanya adalah judul film yang tidak terkenal. Setidaknya saya datang ke tempat persewaan film tidak khusus untuk mencari kedua film tersebut. Kala mood untuk menonton movie di rumah ada, tentunya tidak afdol jika hanya menyewa 1 film incaran saja, setidaknya demikianlah yang saya pikir. Seperti pertandingan tinju, atau konser band, pastilah ada pertandingan atau band pembuka yang membangun suasana untuk selanjutnya menyaksikan show utama. Bukan berarti film-film ini nggak bagus lho, coba icip-icip sedikit:

Ok, Lars and The Real Girl (LaTRG) menceritakan seorang lajang bernama Lars (Ryan Gosling) yang memiliki kecenderungan untuk canggung terhadap wanita, padahal dari segi tampang ia ganteng. Kakak dan kakak iparnya (terutama sang kakak ipar) sangat memperhatikan kecenderungan ini dan berusaha agar Lars menjadi ‘normal’ dan akhirnya berkencan. Harapan mereka mendapat respon ketika suatu hari dengan bahagia Lars menceritakan tentang seorang wanita yang ia temui dan sementara akan dititipkan di rumah sang kakak (mereka sebenarnya tinggal serumah, tetapi Lars memilih tinggal di bangunan gudang yang agak terpisah dari rumah utama). Kebahagiaan mereka berdua mendapat cobaan ketika ternyata yang diajak oleh sang adik adalah sebuah boneka seukuran manusia yang ia yakini adalah seorang wanita sungguhan. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, mereka mengajak Lars menemui seorang dokter, dan disana mereka mendapat nasehat agar sementara mengikuti apa yang diyakini Lars. Bukan hanya mereka, seluruh lingkungan itu pada akhirnya mengikuti permainan ini, sampai-sampai si boneka memiliki peran bagi kehidupan sosial seluruh lingkungan. Ada banyak adegan dan dialog lucu, mengharukan dan menggelitik dalam film ini, dan pas ditonton dengan keluarga (13 th keatas mungkin). Idenya memang aneh, tetapi dijamin gak rugi nonton film bergenre komedi drama ini ampe kelar.

Next, Dan in Real Life menceritakan tentang seorang ayah, duda meninggal, dengan 3 putri (17 th, remaja, dan kelas 4). Dan adalah seorang kolumnis yang menceritakan tentang nilai-nilai keluarga. Ia penulis yang cukup dihargai. Suatu ketika mereka liburan ke rumah orangtua Dan, berkumpul dengan keluarga besar. Saat mencoba menjernihkan pikiran, di sebuah toko buku ia bertemu dengan seorang wanita, dan mereka pun terlibat dalam suatu pembicaraan yang mengasyikkan. Dan menyukai wanita ini, Marie, dan Marie pun tampak tertarik dengan Dan, walau ia baru memulai sebuah hubungan. Sampai di rumah, Dan pun bercerita kepada keluarganya tentang perempuan yang luar biasa ini, betapa ia tertarik dengannya. Semua bahagia, termasuk Mitch, sang adik yang kemudian memperkenalkan pacarnya Annie-Marie, perempuan yang Dan temui di toko buku. Dimulai dari momen ini, film menjadi begitu menarik dengan kekonyolan Dan, kekacauan yang ia buat karena dilema yang dihadapinya. Sampai kemudian seluruh keluarga, termasuk Mitch dan anak-anaknya mengetahui Dan dan Marie berciuman. Seperti komedi-drama yang saya sukai, film ini pun berakhir dengan bahagia, seperti apa? Saksikan saja!

Ahh, tangan saya gatal untuk mengetik satu judul film lagi, Love in the Time of Cholera. Nah, yang ini film peraih penghargaan. Tentang cinta sampai kakek-nenek yang dimiliki oleh Florentino Ariza kepada Fermina Daza. Awalnya saya pikir film ini dangkal, cuma mengenai kisah cinta antara dua manusia. Ternyata film yang diangkat dari novel berjudul sama karangan Pemenang Hadiah Nobel Gabriel Garcia Marques ini lebih dari itu. Menceritakan tentang cinta menggebu Florentino Ariza yang miskin denganFermina Daza yang kaya, kemudian dengan campur tangan sang ayah, Fermina menikah dengan dr. Urbino. Patah hati (disini sang pengarang mengandaikan cinta seperti penyakit kolera), Florentino tetap menunggu sang cinta untuk kembali ia miliki, ia berjuang untuk akhirnya menjadi orang yang diakui oleh masyarakat secara status sosial dan ekonomi. Sampai tua pun Florentino yang begitu romantis tetap mencintai Fermina, dan momen itu datang juga ketika dr. Urbino meninggal. Awalnya menolak keras, Fermina akhirnya luluh juga oleh ketulusan cinta Florentino. Indah! Benar-benar cinta yang menghanyutkan, kulit keriput, tenaga yang sudah memble, tetapi api cinta yang menyala begitu dahhhsyaaat! Layak ditonton oleh fans BBB dengan lagunya Putus-Nyambung! eh, emang nyambung? Hehehehe, saksikan aja filmnya…

Sekian kali ini. Oya, resensi ini hanya pendapat pribadi, saya tidak mendapat keuntungan apapun dari promosi ketiga film ini. Hehehehehe, cuma rekomen aja. Happy week end!

Categories: Resensi