Home > Inside my Thought > Takjub Pada Air

Takjub Pada Air

Tidak bosan-bosannya Tara, anak saya memberi pelajaran tentang penghargaan terhadap lingkungan dan rasa syukur karena masih memiliki apa yang sedang saya miliki. Daya tarik dan rasa takjubnya atas apa yang ia lihat memberi saya pertanyaan, kenapa saya tidak bisa merasakan apa yang ia rasakan. Kenapa saya tidak bisa mensyukuri apa yang ia lihat dengan takjub!

Hari itu saya mengambil libur. Cucian menumpuk. Sambil menggendong Tara dengan tangan kanan, menenteng plastik berisi celana pesing Tara dan baju-baju serta pakaian saya dan istri. Terimakasih pada teknologi yang mempertemukan saya dengan mesin cuci, terimakasih juga kepada rakyat Indonesia yang telah membayar saya setiap tanggal 1 sehingga saya bisa membeli alat ini.

Saya cemplungkan saja pakaian-pakaian itu. Mengambil ember dan mengisinya dengan air dari keran (memang, mesin cuci biasanya dilengkapi dengan selang pengisi air, tetapi berhubung jarak antara mesin dengan keran terlalu jauh, kami biasa mengisinya dengan air dari ember). Begitu air mengucur turun, wajah Tara berpaling, memandang dengan lekat, dan (mungkin) bertanya-tanya, darimana datangnya suara, darimana datangnya cahaya putih memantul. Dan ia menyentuh air dengan takut-takut, memandang saya dan (mungkin) meminta persetujuan saya. Tersenyum, saya ambil tangannya, saya sodorkan pada air yang mengalir deras, muncrat mengenai wajah dan bajunya. Matanya berkedip-kedip, suara-suara keluar dari mulutnya (entah apa artinya).

Memindahkan beban gendongan ke tangan kiri, menutup keran, saya mengangkat ember berisi air dengan tangan kanan, dan menuangnya ke mesin. Setelah mengisi dua ember air, memutar tombol dan mesin berputar. Sebabkan air dan cucian di dalamnya berputar! Membuat Tara melongok dan memperhatikan apa yang terjadi. Dari tombol yang saya putar dan pakaian yang berbaur di bawahnya, menyajikan warna-warni yang mengulik imaji.

Berbagai pertanyaan muncul di benak saya. Brainstorm: apa ya yang ia pikirkan? apa dia mengerti mekanisme yang terjadi? sampai kapan ia terbiasa dan akhirnya bosan? apa dia menyukai pemandangan ini dan ketika ia sudah agak besar mau mencuci bajunya sendiri? lalu, terbayang sewaktu saya kecil, terbiasa mencuci pakaian sendiri, muncul pertanyan lagi, tidakkah saya mengisi air kebanyakan? berapa energi yang saya abiskan untuk mencuci? listrik? air?

Air. Tara begitu takjub pada air. Air yang setiap hari saya lihat, saya minum, yang (saat ini) begitu mudah saya dapatkan. Hanya menekan tombol, lalu mesin memompa dari sumur dan mengisinya ke profil tank, lalu saat diperlukan, tinggal membuka keran, dan air pun mengucur. Membuat takjub Tara, tidak memberi perasaan apa-apa pada saya. Seharusnya saya bersyukur!

Karangasem terkenal sebagai daerah kering, demikian juga beberapa wilayah di Bali dan juga Indonesia. Ketika musim kemarau, terjadi kemalangan bagi banyak orang. Menyalahkan kenapa hujan tidak turun. Dan ketika musim hujan, banjir, kita menyalahkan melimpahnya air! Kapan kita bersyukur atas adanya air?

Tara begitu takjub pada air yang mengucur dari keran. Sampai kapankah? Sampai kapankah rumah ini, desa ini, wilayah ini memiliki air bersih yang cukup untuk kami? Sampai kapankah saya sadar dan akhirnya bersyukur betapa beruntungnya saya dapat menggunakan air sebagaimana saya perlu?



Categories: Inside my Thought
  1. November 24, 2009 at 2:33 PM

    air, sumber kehidupan…

  2. November 24, 2009 at 11:54 PM

    Wah, tulisan ini juga menyadarkan saya bahwa saya selama ini sering menyia-nyiakan air dengan ndak mematikan keran walaupun air sudah meluber tumpah dari bak air.

    Semoga air bisa menyejahterakan bangsa ini, bukan malah menyengsarakan (banjir). Ameeen..

    • November 25, 2009 at 11:55 AM

      hehe, kebiasaan yang harus kita ubah. Setuju?

  3. Putri
    December 4, 2009 at 9:12 PM

    Air merupakan obat. Air akan bersifat/bermanfaat baik jika mendapat perlakuan yg baik. Air akan bersifat/bermanfaat buruk jk diperlakukan dgn buruk.

    • December 9, 2009 at 1:00 PM

      Air adalah segalanya… ketika kita sedang kehausan, kita akan rela membayar berapapun untuk mendapatkan air…

  4. October 4, 2010 at 2:50 PM

    beautiful.. tulisan2mu indah bgt euy.. 🙂 ga bosen bacanya,,,

    • November 20, 2010 at 4:57 PM

      makasi banyak, makasi atas motivasi nya, udah lama nih aku g nulis, jadi pengen nulis lagi…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

<span>%d</span> bloggers like this: