Home > Uncategorized > I Doglagan

I Doglagan

Pagi ini hujan deras sekali. Angin bertiup kencang dan air jatuh menimbulkan bunyi yang keras saat bertumbukan dengan atap. Rasanya sudah lama tidak menyaksikan hujan yang begini, atau cuma kerinduan saya saja? Tetapi hujan itu berhenti segera. Meninggalkan tetes-tetes air di teras rumah, dan pekerjaan untuk membersihkannya. Lalu saya membuka Hanphone: ada satu email baru!

“A!” menulis di salah satu postingan saya. Membuat saya terharu, membuka laptop, dan disinilah saya, membiarkan jari saya mengetik apa adanya.

Cerita ini muncul di benak saya ketika mengasuh Tara 2 hari yang lalu, sambil memperhatikan beberapa ekor ayam yang sedang mengais bijian di tegalan milik orang jiran (tetangga). Saya ingat ketika kecil dulu, mungkin SD kelas 3 atau 4, menemukan seekor anak ayam tak berbulu di got depan rumah. Istilah Bali-nya doglagan. (Ingat cerita I Siap Selem yang meloloskan diri dan anak-anaknya dari cengkraman Men Kuwuk? Salah satu anak ayam adalah doglagan).

Ketika itu tidak sedang hujan, tidak juga terik, hanya sore hari yang cerah dan saya bermain di depan rumah. Terdengar suara “kiak-kiak-kiak” menghiba tanpa suara “petok-petok-petok” dari induknya. Naluri pahlawan saya menyeringai, lalu berlari mengambil papan kecil dan meletakkannya sebagai jembatan dari got yang tidak begitu dalam ke arah permukaan. Beberapa kali usaha tegar hanya berbuah masam kegagalan karena tanpa bulu di sayap ia tak bisa melompat dengan lengkap. Ia makin putus asa!

Meneguhkan jiwa untuk sedikit kejam, menarik wajah dan mengalihfungsikan sang jembatan menjadi halangan, saya turun dan memojokkan sang pesakitan. Tanpa bantuan siapapun dan tanpa kesulitan besar, nyawa terbalut kulit tak berbulu itu sudah ada di tangan saya. Suaranya makin serak dan saya rasakan gigilan takut di matanya. Tapi ia tak berusaha untuk berontak.

Saya tidak berusaha untuk menjadi dramatis atau supranaturalis. Dengan tangan kiri memegangnya pada bagian perut, saya memberinya makan langsung dari tangan kanan saya. Ibu pernah melakukan hal ini, dan katanya kalau sering melakukannya, maka ayam yang bersangkutan akan menjadi “boh” alias jinak. Ia menikmati makanannya, rakus sampai temboloknya penuh. Lalu saya menyiapkan sebuah kardus untuk tempat tidurnya. Sepertinya saya pun tidur dengan nyenyak malam itu.

Singkat cerita saya memelihara anak ayam itu dengan telaten. Memberinya makan 3x sehari, mengajaknya bercanda dan bergembira ketika bulu-bulunya mulai tumbuh. Saya melindunginya dari ayam-ayam lain yang kadang bertindak terlalu kejam saat diberi makan. (Bahkan ada perumpamaan yang diambil dari tingkah para ayam saat makan, yaitu lebih berambisi untuk mengejar dan mematuk sesama ayam daripada menghabiskan apa yang ada di depannya).

Setelah melihatnya memiliki bulu yang penuh (warnanya putih berbintik-bintik hitam), kebahagiaan saya selanjutnya adalah ketika melihatnya mampu melindungi dirinya sendiri, bahkan kadang berani mengejar ayam yang body-nya lebih besar. Kemudian melihatnya bertelur, punya beberapa anak, dan mengasuh mereka. Biasanya ayam betina yang memiliki anak-anak yang masih kecil akan begitu ganas bila didekati, tetapi tidak demikian dengan I Doglagan.

Begitulah, ia terus beranak-pinak, memiliki cucu, kawin incest dengan anaknya, pantang menyerah dengan panyakit yang pernah membunuh hampir sepertiga ayam piaraan kami. (Ia pernah terlihat lesu dan sakit, namun akhirnya sembuh). Sampai saya kelas 3 SMP dan sekolah di Denpasar pun saya masih melihatnya hidup dengan bangga. Entah sudah berapa ayam yang terlahir dari telur-telurnya. Oya, banyak dari anak-anaknya yang jantan dipelihara untuk menjadi ayam aduan dan mereka tangguh.

Membicarakan akhir hidupnya membawa kesedihan. Maka biarkan saya menutup cerita I Doglagan sampai disini. Pada kenangan akan apa yang telah ia berikan pada hati seorang anak. Kebanggaan, bahwa perbuatan baik yang dilakukan dengan sungguh, walau tak diminta, akan memberi hikmah. Saya bersyukur menjadi anak itu, memberi andil pada siapa saya saat ini.

Categories: Uncategorized
  1. November 16, 2009 at 1:10 PM

    menarik sekali ceritanya bro, cerita I siap selem ini salah satu cerita favorit saya ketika kecil.. hampir setiap malam sebelum tidur ajik selalu menceritakan cerita ini..

    • November 17, 2009 at 12:31 PM

      cerita klasik yang lumayan seru, saya juga menyukai cerita ini…

  2. yudhine
    November 16, 2009 at 1:33 PM

    jangan-jangan salah satu keturunannya sudah kmu potong buat dipanggang pak . . .
    hehehe

    • November 17, 2009 at 12:31 PM

      yap, benar, entah berapa keturunannya yang dipakai untuk banten, hehehe

  3. November 22, 2009 at 4:52 PM

    Cerita tentang ayam ya? Di rumah saya juga ada beberapa ayam peliharaan orang tua, tapi saya memelihara rottwiler. Hehe! Saya sering kena marah karena ayam-ayam itu semburat kalau dikejar anjing saya.

    • November 23, 2009 at 9:40 AM

      ya, tentang ayam yang ga berbulu,… pernah ketemu rottwiler yang ga berbulu?

  4. a!
    November 23, 2009 at 5:02 PM

    cerita yg menyentuh. tentang ketulusan mengasuh dan membiarkannya berkembang menajdi banyak.

    mungkin ketulusan itu yg dulu aku tak punya. makanya gagal terus kalo ternak ayam, kambing, ataupun sapi. hiks..

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

<span>%d</span> bloggers like this: