Home > Uncategorized > Kenangan itu… (Prajabatan)

Kenangan itu… (Prajabatan)

Prajabatan sudah usai. Ada berbagai kenangan. Suka – duka, senang – sedih, gembira – merana. Setiap peserta (siswa) angkatan VII golongan III tahun 2009 yang berjumlah 46 orang mesti memiliki kesannya masing-masing. Seperti yang disampaiakan oleh salah seorang teman, wirautama di blognya.

Bagi saya, ada beberapa hal yang yang menarik untuk dikenang. Seperti misalnya idealisme saya disentil lagi.Tidak usahlah saya mempedulikan citra PNS saat ini yang sering diejek, atau bukan urusan saya untuk memperbaiki orang-orang yang terlanjur membuat citra PNS jelek. Tugas saya adalah menjadi diri saya sendiri, mengkristalkan semangat pelayanan dalam diri saya, menjadi PNS yang bercitra baik. Demikian kira-kira yang ada dalam otak saya pada pemaparan hari pertama.

Sentilan kedua adalah mengenai do’a. Yup, saya jarang mengkhususkan waktu untuk berdoa sebelum memulai sesuatu, baik memulai makan ataupun bekerja. Memang, saya telah membaca sebuah buku yang membuktikan do’a memegang peran yang sangat penting. Tetapi pelaksanaannya masih seret. Maka ketika pemateri menyinggung bahwa berdo’a merupakan ciri budaya kerja yang sangat menunjang produktivitas, saya merasa telinga saya memerah.

Lalu saya mencatat ada dua pemateri yang menyinggung tentang tips mendidik anak. Yang pertama mengatakan jika anak meminta uang untuk membeli atau membayar sesuatu, walaupun kita punya uang, katakan saja saat ini belum ada, bahwa kita akan segera mengusahakannya. Ini untuk mengajarkan bahwa uang bukan sesuatu yang gampangan. Yang kedua  ketika anak kecil tidak mau mandi dan memilih menonton TV, maka ayah yang bijak akan meluangkan waktunya untuk sekedar mengajak anak untuk jalan-jalan, dengan syarat anak mandi dulu…

Ada juga yang terkesan begitu mengagungkan budaya Bali berupa pupuh-pupuh yang saya ingat terakhir saya pelajari saat masih duduk di bangku SD. Beliau mengatakan bahwa banyak pelajaran hidup yang bisa diajarkan melalui media seni tersebut. Menidurkan atau menenangkan anak, lagu-lagu itu sejujurnya begitu merdu dan kaya makna. Saya pun sempat merasa terharu mendengar sebuah lagu mengenai kisah Jayaprana dan Layonsari yang begitu shahdu. Saya jadi ingin membeli buku lagu-lagu bali dan mempelajarinya kembali.

Huff… Tidak adil rasanya jika sayatidak menceritakan tentang perasaan gundah saya yang begitu terasa terutama di awal-awal tinggal di asrama. Rasa rindu dan kangen bertemu dengan anak dan istri tidak bisa dipungkiri. Terbayang potongan-potongan suara yang belum membentuk kata yang diucapkan Tara, ekspresinya, senyum dan tawanya. Terbayang wajah, dan kasih sayang Desi yang biasanya menemani saya.

Ya, memang diberi kesempatan pulang pada saat liburan. Dan kesempatan ini sangat berarti.  Di perjalanan pulang, yang ada di pikiran saya cuma Tara, Desi dan semua suasana rumah. Perlu usaha keras untuk memfokuskan perhatian saya sepenuhnya ke jalan di depan saya.

Namun tidak demikian saat pulang ketika Diklat telah usai. Entah aneh atau tidak, yang terpikirkan adalah saat-saat kami menjalani Diklat bersama-sama. Wajah teman-teman, canda-tawa, kerjasama team yang kami lakukan, susah-senang yang kami bagi bersama. Acara keakraban yang kami maknai tadi. Ahhh, perasaan ingin kembali merasakan suasana itu campur aduk dengan perasaan ingin berkumpul dengan keluarga. Bahkan, di jalan, bayangan tentang kenangan Prajabatan mendominasi… sendu.

Tidak heran, beberapa hari setelah prajabatan (sampai hari ini), ketika membuka facebook, kami saling add, saling berkomentar, seolah menumpahkan kerinduan itu. Saling bercerita, bertanya kabar, melontarkan ide membuat mailing list dan melemparkan usul pertemuan kembali.

Ahhh, kenangan itu… Mengukir hiasan di hati, mengukir senyum dan kerinduan. I Miss U All…

Categories: Uncategorized
  1. June 4, 2009 at 2:36 PM

    ternyata bukan cuma saya yang merasa seperti itu…. mungkin hiperbola ya, tapi kalau diklat ditambah semingu lagi pun kita tidak terlalu keberatan… hehehe

    ititut4rya said: wah, saya kayaknya pernah dengar anda mengucapkan kata-kata itu deh, Pak Wira… hehehehehe, memang prajabatan itu meninggalkan kesan mendalam…

  2. June 4, 2009 at 4:10 PM

    wah ada yang mau nambah diklat nih,heheh bukan diklatnya ditambah tapi kebersamaan kita ditambah,hehe

    ititut4rya said: ada yang gak setuju neh diklat ditambah, 🙂 secara wirya sering banget ditelpon (atau nelpon) pacarnya… hehehehehe

  3. June 5, 2009 at 10:20 AM

    pak arya, pikirin juga nae pasien2 disini yang kangen ditinggal prajab . . .

    ititut4rya said: Kan udah ada anda,… hehehehe

  4. June 6, 2009 at 2:49 PM

    Wah..kalo kangen ama temen-temen Diklat, tahun depan bikin Diklat aja lagi..!

    ititut4rya said: Cita-citanya sih gitu Vic, kita ngumpul lagi dalam Diklat Pejabat nantinya… Doain yach…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

<span>%d</span> bloggers like this: