Home > Inside my Thought > Perjalanan 3 (Efek Kupu-Kupu)

Perjalanan 3 (Efek Kupu-Kupu)

Berminggu-minggu ini, cerita klasik terulang lagi. Saya selalu berangkat ke tempat kerja dengan kesetanan, tidak jarang motor saya mencapai 90 km/jam (oke, bagi beberapa orang ini mungkin kecepatan normal, atau bahkan bagi Valentino Rossi wannabe kecepatan segini bukan apa-apa). Bahkan saat sudah sampai di dalam kota Bangli pun saya masih memacu kecepatan motor sampai 60 km/jam.

Hemm, tadi pagi hujan melanda sepertiga jalan menuju Bangli, dan saya mengendarai sepeda motor yang tidak biasa saya bawa, jadi saya tidak bisa secepat biasanya, dan syukurlah begitu.

Seorang murid SMP menyetop sebuah mikrolet. Sang sopir yang tak ingin kehilangan penumpang segera merapat ke pinggir jalan, membuat sebuah Katana di belakangnya membanting stir ke kanan untuk menyalip. Dari arah berlawanan sebuah sepeda motor berkecepatan lumayan (mungkin 60-70 km/jam) harus menghindari Katana dengan gesit karena ia tadinya melaju agak ke tengah bahu jalan untuk menyalip sesama pengendara sepeda motor.  Untung ia begitu gesit.

Apa ini? Bukan apa-apa. Cuma, kejadian itu mengingatkan saya pada Butterfly Effect.

Dalam Wikipedia Indonesia tertulis; Efek kupu-kupu (bahasa Inggris: Butterfly effect) adalah istilah untuk sebuah teori Chaos. Istilah ini merujuk pada sebuah pemikiran bahwa kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brazil dapat menghasilkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian. Fenomena ini juga dikenal sebagai sistem yang ketergantungannya sangat peka terhadap kondisi awal. Hanya sedikit perubahan pada kondisi awal, dapat mengubah secara drastis kelakuan sistem pada jangka panjang. Jika suatu sistem dimulai dengan kondisi awal dua maka hasil akhir dari sistem yang sama akan jauh berbeda jika dimulai dengan 2,000001 di mana 0,000001 sangat kecil sekali dan wajar untuk diabaikan. Dengan kata lain: kesalahan yang sangat kecil akan menyebabkan bencana dikemudian hari.

Kata-kata yang dicetak bold diatas begitu menakjubkan ketika pertama kali saya dengar. Bagaimana bisa hembusan sayap kupu-kupu bisa menyebabkan angin yang begitu dahsyat di tempat yang begitu jauh?

Oke, bukannya saya mengungkit-ungkit kepedihan bangsa ini terhadap bencana Situ Gintung. Coba kalau retakan kecil di bendungan yang pernah disadari oleh warga segera ditanggapi dan dicarikan solusi, bencana tidak akan terjadi. Maaf, saya tidak ingin menyalahkan siapapun dalam hal ini.

Waktu kecil dulu saya pernah membaca sebuah cerita tentang seorang anak pemberani. Kalau tidak salah ini cerita rakyat Belanda.  Katanya suatu sore seorang anak melihat sebuah lubang seukuran jarinya di bendungan yang memisahkan daratan dengan laut. Dan laut sudah mulai pasang, kalaupun ia pulang ke desanya untuk mencari bantuan, waktunya tidak akan cukup. Maka ia menutup lubang itu dengan jarinya. Semalaman. Dengan demikian, ia menyelamatkan warga desanya dari bencana akibat hancurnya bendungan tersebut.

See? Hal kecil sangat berarti. Bahkan AA Gym pernah berkata, mulai dari hal kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang. Banyak hal yang bisa dilakukan. Klise, tetapi kebenarannya abadi. Membuang sampah pada tempatnya, senyum, menanam sebuah pohon, ngeblog yang inspiratif (hehehehehe).

Itu saja. Selamat menjadi kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya dengan baik. Yang membawa perubahan, meski kecil, tetapi bermanfaat baik. Lakukan sekarang, meski perubahannya mungkin akan terjadi berbulan-bulan kemudian, bahkan bertahun-tahun kemudian.

Categories: Inside my Thought
  1. ina maniz nih
    May 5, 2009 at 12:11 PM

    sangat menginspirasi ,Ya…maybe after this aku juga dengan penuh tekad ndk akan easy to sewot kalo ada yang nakal2 salip menyalip n ngambil jalurku…just stay cool ya kan,walaupun rasanya jarak Sanur Bangli mustahil aku tempuh dlm waktu 40 menit tanpa ‘kesetanan ‘ kaya Arya bilang…demi untuk mengejar apel pagi..n mgk menginspirasi buat ‘kasus2’ lain..

    ititut4rya said: Makasi mba Ina, kalo ada yang nyalip, salip lagi, hehehe, apalagi kalo itu mba Parma! Kalo masalah sewot-sewotan, kayaknya mba Ina ga sesewot itu deh 🙂

  2. May 6, 2009 at 9:39 AM

    mbok na, apel pagi memang sangat berarti. . .

    ititut4rya said : ya, memang berarti: kalau yang gaikut = kurang disiplin…

  3. May 11, 2009 at 12:02 AM

    suka AA Gym to? *hhmmmff

    ititut4rya said : gapapa khan meng-quote AA Gym, mumpung situasinya cocok…

  4. May 20, 2009 at 9:11 AM

    link back dong pak

    http://owthey.blogspot.com

    ititut4rya said : habis prajab ya…

  5. June 2, 2009 at 9:10 AM

    wow… nice post..

    saya setuju, start from the smallest thing

    ititut4rya said: makasi wir, small is beauty…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

<span>%d</span> bloggers like this: