Home > Inside my Thought, On True > Tidur dan Bermimpi

Tidur dan Bermimpi

Pagi ini, datang dari RSJ setelah habis jaga 24 jam, menemukan Tara tidur ditemani oleh neneknya, ibu saya. Pergi ke dapur sebentar, keluar, kemudian menghampiri Desi yang sedang mencuci popok kain dan aled, saling tersenyum, bercanda sebentar, lalu mengganti pakaian. Menemukan kue ‘kuping gajah’ diatas meja, berkurang setengahnya sejak saya tinggalkan kemarin, menghancurkannya di dalam mulut saya satu demi satu. Mencomot ‘Gery Chocolatos’ di ruang tamu, menghabiskannya dalam 3 kali ‘hap’ kemudian tergoda oleh sebongkah apel fuji sekepal tangan saya, dan setelah itupun habis, disodori sebungkus ‘lempog’ oleh ibu saya. Kapan mengecilkan perutnya kalo makan terus???

Saat menemani Tara yang sedang terlelap, entah memimpikan apa (umur 38 hari udah bisa mimpi belum ya?). Saya jadi ingat impian saya dan apa yang belum saya perbuat untuk mencapainya. Saya ingat berulangkali diingatkan oleh Tuhan betapa saya seringkali tidak berjuang sekuat tenaga saya. Betapa saya bingung menginterpretasikan antara ambisi dengan kepasrahan kepada Tuhan. Betapa kata ambisi membuat saya begitu takut untuk menjadi jahat, menjadi egois yang menghalalkan berbagai cara, termasuk manipulasi (sumber daya manusia dan sumber daya non-manusia), pengkhianatan, kebohongan . Saya tidak ingin dipandang jahat (emang siapa yang pengen?). Lalu saya ingat betapa kata pasrah membuat saya merasa kekurangan aliran adrenalin. Hanya mengerjakan semuanya berdasarkan formalitas saja. Sekedar selesai, sekedar lulus, ya, standar lah.

Lalu saya ingat kemarin, sewaktu jaga, tiba-tiba saya merasa tidak ingin melakukan hobi yang biasanya sangat saya nikmati untuk lakukan. Main internet! Tiba-tiba saya memiliki pikiran bahwa main internet tidak semenarik sebelumnya. Membiarkan mata dan pikiran saya tidak fokus, dari MIMS di meja, buku PPDGJ di tas ransel, catatan kecil yang dari dulu belum berhasil saya ‘habisi’ lalu laptop dimana terinstall dua game yang biasanya sangat saya nikmati. Saya memilih main game!

Seperti biasanya, saya mampu melupakan masalah-masalah saya, tenggelam dalam misi-misi yang harus dilakukan oleh tokoh saya, membunuh waktu, lalu merasa terganggu karena ada telepon dari UGD. Panggilan untuk melakukan misi yang sebenarnya, di kehidupan yang sebenarnya, dimana tidak ada ‘save’ atau checkpoint dan ‘load’ jika tindakan yang telah dilakukan sebelumnya tidak menghasilkan sesuatu yang diinginkan. Ya, di dunia nyata waktu terus berjalan, yang berlalu akan berlalu, tak ada yang bisa diulang.

Dalam perjalanan pulang tadi, saya menganalisa diri saya, bertanya kenapa tiba-tiba kemarin saya tidak ingin ngenet? Mendownload, melihat-lihat artikel, berita dan sebagainya. Di pertengahan jalan, saya menyadari, di laptop sudah relatif banyak artikel tentang kesehatan, tentang hal-hal yang berguna, berbagai e-book, mp3, flv, avi yang tersebar tidak karuan, yang belum saya baca semuanya. Apa saya mulai sadar, seharusnya saya me-manage dulu apa yang telah saya miliki, membaca dulu semua artikel dan e-book, mengatur dan menikmati audio visual yang jarang saya apresiasi. Seharusnya saya mesyukuri dulu, menyadari apa yang telah saya miliki, menikmatinya dengan khusyuk, bukannya terus merasa haus pada apa yang belum saya miliki namun tidak menikmatinya. Maksud saya, kenapa menginginkan rumput di lapangan, ketika rumput di rumah sendiri belum saya nikmati dan saya pelihara sepenuhnya. Berapa orang sih yang tidak puas dengan hidupnya karena ia kurang bisa bersyukur atas apa yang telah ia miliki, membandingkannya dengan memandang ke atas, lalu membabi-buta menginginkan lebih.

Ahhh, tetapi apa salahnya menginginkan lebih? Apa salahnya bermimpi? Apa salahnya berambisi? Apa salahnya ingin sukses? Punya rumah, mobil, karir, berkuasa, memiliki kontrol penuh atas apapun kejadian yang ada di depan kita, apa salahnya? Bermimpi kalau apapun yang diinginkan bisa tercapai dengan doa dan usaha, optimis dan bekerja keras!

Tara tiba-tiba tersenyum dalam tidurnya, masih memutuskan untuk bermimpi. Saya pun tahu, nanti malam, menjelang dini hari, matanya akan sulit untuk dibuat terpejam. Seperti mata saya saat ini.

Categories: Inside my Thought, On True
  1. April 15, 2009 at 1:10 PM

    hmmmm….

    berharap sesuatu yang lebih, ,, saya tak ingin,,, hahaha, hanya menyisakan kegamangan, jika tak terwujud…

    ititut4rya said: sekarang masalahnya apakah kita sudah tahu sejauh mana hak sukses kita? hanya segini aja ato lebih dari yang kita pikirkan? kalo ternyata lebih dari ini bagaimana? kan sayang hak sukses kita tidak kita klaim… hayooo semangat ti!!!

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

<span>%d</span> bloggers like this: