Home > Uncategorized > Perjalanan 2

Perjalanan 2

Mulai Minggu tanggal 2 Maret 2009, saya memboyong istri dan anak saya ke kampung halaman. Ulakan. Pertimbangan utamanya adalah jika saya sibuk bekerja, maka Desi akan ada yang menemani di rumah. Bukan hal yang luar biasa sih, saya memang menghabiskan masa kecil di kampung. Cuma, ada terbersit sedikit kekhawatiran, bagaimana kalau tiba-tiba kami pengen rujak atau srombotan, atau tipat cantok langganan kami? Ato terang bulan keju yang lembut, seafood, atau sekedar jalan-jalan window shopping ke Mall atau toko buku? Kegiatan-kegiatan yang sering kami andalkan untuk mengurangi rasa suntuk? Ahh, itu kan nanti, seandainya… Let’s think about NOW kata saya pada diri saya…

Dengan berubahnya domisili, maka berubah pula rute perjalanan saya ke tempat kerja. Dan jika dibandingkan jarak antara Denpasar-Bangli dengan Ulakan-Bangli, maka perbedaannya pun tidak terlalu signifikan. Jika saya ingin benar-benar menikmati perjalanan (artinya tidak harus kesetanan dengan kecepatan 80-90 km/jam) maka saya harus berangkat pada 6.00 WITA. Selain alasan ingin menikmati perjalanan, tentunya tepat waktu untuk mengikuti apel pagi menjadi alasan yang lebih memotivasi (lebih karena jika luput ikut apel maka akan dicap sebagai pegawai yang malas).

Hari ini saya berangkat saat jarum jam sudah menunjukkan 6:10. Ber-Daaa, daaa dengan si Tara yang sudah bisa bereksperimen dengan ekspresi mulut dan wajahnya. Mengucapkan sampai jumpa lagi nanti siang, menstarter motor lalu melaju kencang. Dalam sekejap sudah melewati lapangan tempat saya bermain sepak bola, basket atau sekedar berlari sore pada masa kecil saya. Disana juga ada SD dan SMP tempat saya menempuh pendidikan sebelum saya pindah ke Denpasar 11 tahun yang lalu. Meliuk-liuki tikungan-tikungan, menyalip beberapa sepeda motor dan mobil, sedikit mengernyit saat berhadapan dengan lampu merah di pertigaan Padangbay yang lumayan lama menahan perjalanan saya.

Kemudian melewati pura Goa Lawah, salah satu pura yang sering disinggahi oleh orang-orang yang pulang kampung dari arah Denpasar. Dan dalam sepuluh detik sudah mencapai jalan by pass baru di Kusamba, aspalnya sungguh baru, licin, mulus, membuat saya mengencangkan gas dan menyalip sebuah Yamaha berkecepatan sekitar 60 km/jam, berpikir, what’s the point of being in by pass road and running only with 60 km/h. Lalu saya melihat ke arah utara (kayaknya utara) dan menyaksikan gugusan perbukitan disebelah kanan saya. Mengingatkan saya pada film Lord of the Rings dan gugusan pegunungan di New Zealand, tempat yang saya ingin datangi. Hijau dan indah, rasanya saya tidak usah ke New Zealand, ditingkahi dengan kabut dingin yang dipeluk dari mentari pagi yang belum menembus bukit tertinggi. Wahhh, tidak usah warna-warni, tidak usah gemerlap, tidak usah harum, tidak usah nyanyian atau musik, pemandangan ini pun sudah memukau panca indera saya, melayangkan imajinasi saya, membuat senyum di wajah saya, menspontankan syukur di hati saya. Membiarkan motor yang tadi saya dahului balik mendahului saya.

Terakhir kali saya mendaki waktu saya masih kelas 2 SMU. Gunung Batur. Waktu itu saya sangat bangga. Waktu itu SMANSA mengadakan acara hiking sekaligus bersih2 Gunung Batur. Tim perintis terdiri dari beberapa anak KPA (Kelompok Pecinta Alam) beserta pembina, plus saya yang sama sekali bukan anggota (alasan saya waktu itu adalah karena saya lebih mempercayai diri saya dibanding supir truk). Kami berangkat dengan sepeda motor dari Denpasar pada sore hari, sampai di tempat awal mendaki pada malam hari, menitip sepeda motor, minum kopi, makan pop mie, lalu mendaki sesuai rute. Sesampai di pinggang gunung, mencari tempat istirahat, lalu tertidur beralaskan jas hujan. Bangun keesokan harinya, dini hari, survei tempat upacara bendera, turun lagi menjemput rombongan besar yang datang dengan beberapa truk. Lalu menjadi pemandu untuk naik sampai ke puncak. Pemandangan yang sungguh menakjubkan. Oya, beberapa teman memetik edelweis untuk kekasihnya atau cewek yang ingin ditembaknya.

Pertama kali saya mendaki (kalau bisa dikatakan mendaki) adalah ketika masih SD, menaklukkan sebuah bukit di dekat pantai desa saya, Bukit Mucung namanya. Bersama dua orang tetangga yang umurnya dua tahun diatas saya, kami mengeksplorasi keinginan bertualang kami. Awalnya pada saat itu kami hanya berniat mencari buah jambu monyet dan juwet (anggur jawa) di bukit itu. Saya masih ingat rasa excited yang kami rasakan saat itu, apalagi sambil jalan kami memperbincangkan mitos adanya sebuah gua di daerah utara bukit itu, yang dihuni oleh sejenis naga yang akan marah jika melihat tiga orang anak berkeliaran di daerah kekuasaannya. Ya, kami memperoleh buah yang kami inginkan, dan bonus pemandangan pantai dan laut yang indah. Itulah pertama kali saya merasakan apresiasi terhadap pemandangan dan suasana yang indah.

Betapa saya ingin agar anak saya memiliki apresiasi terhadap alam, mengembangkan rasa syukur atas anugerah Tuhan berupa keindahan yang bisa ia nikmati setiap hari. Betapa saya ingin mendampingi anak saya dalam setiap tahap pertumbuhannya. Hmmmphh, jadi ingat, mulai 14 Mei sampai 5 Juni nanti saya akan mengikuti pra-jabatan di Balai Diklat di Jl. Hayam Wuruk Denpasar. Dan selama 3 minggu saya akan jauh dari Tara. Katanya sih, pada akhir minggu, para peserta diijinkan meninggalkan asrama. Tetapi, katanya juga, itu tidak akan ada artinya jika dipilih menjadi ketua kelompok, karena ketua kelompok biasanya didaulat oleh teman-teman untuk mengerjakan tugas akhir minggu. Haaahhh!!! Semoga bukan saya yang menjadi ketua kelompok.

Selama 3 minggu juga kami tidak ngantor, 3 minggu tidak melihat pasien, 3 minggu tidak pulang-pergi Bangli. Salah seorang teman bergembira karena ini, tetapi teman lain berkata, “Dikira enak apa, pra-jabatan?” Memang siy, katanya bangunΒ  jam 5 pagi, olahraga setiap hari (hehe, bisa melangsingkan badan nih), lalu kuliah sampai sore diselingi istirahat siang. Sebagian besar teman mengaku ngantuk saat kuliah. Haha, terbayangkan! Untuk pra-jabatan ini saya perlu menyiapkan pakaian atas putih dan bawah hitam, sabuk korpri, dasi hitam, dan mental untuk kangen dengan putri saya selama 3 minggu.

Paradoksnya adalah, pra-jabatan merupakan sesuatu yang kami, para CPNS, sangat tunggu-tunggu. Dengan melewati pra-jabatan, kami dapat mengajukan diri untuk segera diakui menjadi 100% PNS. Jadi, saat ini hal terbaik yang bisa saya lakukan adalah bersyukur karena saya akan segera menjadi PNS 100%, bersiap untuk pra-jabatan, dan sekali lagi bersiap untuk kangen…

Haaahhh…

Categories: Uncategorized
  1. March 20, 2009 at 7:31 AM

    Happy prajab! Semoga beneran jadi PNS alias Pegawai Negeri Sipil, bukan jadi Pegawai Negeri Santai..

    ititut4rya says : makasi Vic, semoga prajab nanti benar-benar happy… Aku sih pengennya jadi Pegawai Negeri Sukses, bisa gak ya?? πŸ™‚

  2. March 20, 2009 at 9:33 PM

    wah, baca postingan ini, saya terima ajakan teman untuk kemah deh, hehe

    tlotr selalu mengingatkan saya pada acara malam tahun baru 2005..

    oya, berhubung saya lagi suka titip2 salam, saya titipnya buat tara yang manis ya,, cek2 tar si manis juga suka maen2 ke sungai, hehe πŸ™‚

    ititut4rya says: kemah baik untuk kesehatan jiwa, apalagi pas api unggun sambil dempet2an πŸ™‚
    LOTR emang dahsyat…
    berhubung Tara belum bisa bales salam, saya yang bales salamnya Tara, … Hehehe, Tara emang manis dan di belakang rumah emang ada sungai… πŸ™‚

  3. March 22, 2009 at 12:57 PM

    Deskripsi perjalanannya bagus bgt nih. Btw, nanti Tara pasti jadi anak yang cinta alam klo bapaknya aja uda kayak gini πŸ™‚

    ititut4rya says: Ya, Ded, saya ingin dia mampu bersyukur… Bersyukur punya bapak seperti saya, hehehehehe… πŸ™‚

  4. March 26, 2009 at 8:48 AM

    Selamat menikmati “indahnya” masa pra-jab ya πŸ™‚
    Denger2 sih, “indah” buanget, hehhehe…

    ititut4rya says: kok indahnya pake “…” siy? jadi gimana gitu… πŸ™‚

  5. KASUS 87
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

<span>%d</span> bloggers like this: