Home > Resensi > Lars and the Real Girl dan Dan in Real Life

Lars and the Real Girl dan Dan in Real Life

Keduanya adalah judul film yang tidak terkenal. Setidaknya saya datang ke tempat persewaan film tidak khusus untuk mencari kedua film tersebut. Kala mood untuk menonton movie di rumah ada, tentunya tidak afdol jika hanya menyewa 1 film incaran saja, setidaknya demikianlah yang saya pikir. Seperti pertandingan tinju, atau konser band, pastilah ada pertandingan atau band pembuka yang membangun suasana untuk selanjutnya menyaksikan show utama. Bukan berarti film-film ini nggak bagus lho, coba icip-icip sedikit:

Ok, Lars and The Real Girl (LaTRG) menceritakan seorang lajang bernama Lars (Ryan Gosling) yang memiliki kecenderungan untuk canggung terhadap wanita, padahal dari segi tampang ia ganteng. Kakak dan kakak iparnya (terutama sang kakak ipar) sangat memperhatikan kecenderungan ini dan berusaha agar Lars menjadi ‘normal’ dan akhirnya berkencan. Harapan mereka mendapat respon ketika suatu hari dengan bahagia Lars menceritakan tentang seorang wanita yang ia temui dan sementara akan dititipkan di rumah sang kakak (mereka sebenarnya tinggal serumah, tetapi Lars memilih tinggal di bangunan gudang yang agak terpisah dari rumah utama). Kebahagiaan mereka berdua mendapat cobaan ketika ternyata yang diajak oleh sang adik adalah sebuah boneka seukuran manusia yang ia yakini adalah seorang wanita sungguhan. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, mereka mengajak Lars menemui seorang dokter, dan disana mereka mendapat nasehat agar sementara mengikuti apa yang diyakini Lars. Bukan hanya mereka, seluruh lingkungan itu pada akhirnya mengikuti permainan ini, sampai-sampai si boneka memiliki peran bagi kehidupan sosial seluruh lingkungan. Ada banyak adegan dan dialog lucu, mengharukan dan menggelitik dalam film ini, dan pas ditonton dengan keluarga (13 th keatas mungkin). Idenya memang aneh, tetapi dijamin gak rugi nonton film bergenre komedi drama ini ampe kelar.

Next, Dan in Real Life menceritakan tentang seorang ayah, duda meninggal, dengan 3 putri (17 th, remaja, dan kelas 4). Dan adalah seorang kolumnis yang menceritakan tentang nilai-nilai keluarga. Ia penulis yang cukup dihargai. Suatu ketika mereka liburan ke rumah orangtua Dan, berkumpul dengan keluarga besar. Saat mencoba menjernihkan pikiran, di sebuah toko buku ia bertemu dengan seorang wanita, dan mereka pun terlibat dalam suatu pembicaraan yang mengasyikkan. Dan menyukai wanita ini, Marie, dan Marie pun tampak tertarik dengan Dan, walau ia baru memulai sebuah hubungan. Sampai di rumah, Dan pun bercerita kepada keluarganya tentang perempuan yang luar biasa ini, betapa ia tertarik dengannya. Semua bahagia, termasuk Mitch, sang adik yang kemudian memperkenalkan pacarnya Annie-Marie, perempuan yang Dan temui di toko buku. Dimulai dari momen ini, film menjadi begitu menarik dengan kekonyolan Dan, kekacauan yang ia buat karena dilema yang dihadapinya. Sampai kemudian seluruh keluarga, termasuk Mitch dan anak-anaknya mengetahui Dan dan Marie berciuman. Seperti komedi-drama yang saya sukai, film ini pun berakhir dengan bahagia, seperti apa? Saksikan saja!

Ahh, tangan saya gatal untuk mengetik satu judul film lagi, Love in the Time of Cholera. Nah, yang ini film peraih penghargaan. Tentang cinta sampai kakek-nenek yang dimiliki oleh Florentino Ariza kepada Fermina Daza. Awalnya saya pikir film ini dangkal, cuma mengenai kisah cinta antara dua manusia. Ternyata film yang diangkat dari novel berjudul sama karangan Pemenang Hadiah Nobel Gabriel Garcia Marques ini lebih dari itu. Menceritakan tentang cinta menggebu Florentino Ariza yang miskin denganFermina Daza yang kaya, kemudian dengan campur tangan sang ayah, Fermina menikah dengan dr. Urbino. Patah hati (disini sang pengarang mengandaikan cinta seperti penyakit kolera), Florentino tetap menunggu sang cinta untuk kembali ia miliki, ia berjuang untuk akhirnya menjadi orang yang diakui oleh masyarakat secara status sosial dan ekonomi. Sampai tua pun Florentino yang begitu romantis tetap mencintai Fermina, dan momen itu datang juga ketika dr. Urbino meninggal. Awalnya menolak keras, Fermina akhirnya luluh juga oleh ketulusan cinta Florentino. Indah! Benar-benar cinta yang menghanyutkan, kulit keriput, tenaga yang sudah memble, tetapi api cinta yang menyala begitu dahhhsyaaat! Layak ditonton oleh fans BBB dengan lagunya Putus-Nyambung! eh, emang nyambung? Hehehehe, saksikan aja filmnya…

Sekian kali ini. Oya, resensi ini hanya pendapat pribadi, saya tidak mendapat keuntungan apapun dari promosi ketiga film ini. Hehehehehe, cuma rekomen aja. Happy week end!

Categories: Resensi
  1. February 20, 2009 at 4:43 PM

    Dan in Real Life terasa lucu ketika orang-orang yang sebelumnya berusaha menjauhkan “cewek” malah lebih terlibat secara personal dengan “cewek” tersebut.
    Idenya aneh dan menjadi terkesan orisinil.

    Suka dengan Dan in A Real Life yang beraroma fun dan membuat penonton feel good.
    Adegan paling lucu ya ketika Dan terjebak di kamar mandi si cewek 🙂

    ititut4rya says: saya paling suka adegan mengharukan dimana Dan bicara dg ketiga anaknya tentang permasalahan yang ia hadapi, yang berujung manis. Yup, film ini sepenuhnya drama, tetapi kemasannya komedi segar. Top stuff!

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

<span>%d</span> bloggers like this: