Home > Inside my Thought > Perjalanan

Perjalanan

Begitu banyak hal yang dapat disaksikan di sepanjang jalan kita menuju suatu tempat. Terutama yang jauh, semakin jauh perjalanan semakin banyak yang bisa dinikmati, kalau kita memutuskan untuk benar-benar menikmati dan memaknai sebuah perjalanan. Walaupun memang, suatu perjalanan pasti memiliki akhir, memiliki tujuan. Kalau boleh sedikit berfilosofi, perjalanan adalah suatu proses, dan tempat tujuan adalah suatu hasil, atau sebaliknya, suatu proses adalah sebuah perjalanan dan hasil adalah tempat tujuan. Mana yang lebih penting, tempat/tujuan ataukah perjalanan/hasil? Pertanyaan itu pernah dilontarkan oleh seorang mentor saya di organisasi kemahasiswaan beberapa tahun yang lalu. Jawabannya? Silahkan tanya sendiri pada diri anda.

 Pagi ini saya mencoba menikmati perjalanan saya dari Denpasar, tempat tinggal saya ke Bangli, tempat kerja saya. Memang, setiap hari saya melewati jalan ini, seringkali saya bosan dan menguap di jalan, sambil menahankan hawa dingin di pagi hari (saya berangkat sekitar pukul 6 pagi), hawa panas di siang hari (pulang kerja jam 2) dan hujan yang mendera yang diiringi angin yang menderu. Pagi ini saya berkendara lewat by pass I. B. Mantra sambil mencoba melihat keindahan awan, mentari pagi yang bersemu, pantulan alam di sawah-sawah yang belum ditanami, sawah yang menghijau, laut, Pulau Nusa Penida di kejauhan, juga mencoba menghirup udara pagi yang tidak ada di kota, mengamati wajah orang-orang desa, wajah orang-orang seperti saya, melirik kesibukan mereka.

 Hmmmm, bisa juga menikmati ini semua, saya menyadari kebesaran Tuhan, menyadari keindahan yang saya lalui setiap hari tetapi tidak pernah saya terima sebagai keindahan. Saya jadi tersenyum, seperti ada sebuah lilin yang menyala di hati saya. Tapi tak urung, keindahan perjalanan yang coba saya nikmati, bukannya tidak menemukan gangguan. Hehehehehe, maaf, saya agak terganggu dengan adanya baliho calon legislatif dan bendera yang tersebar di sepanjang jalan. Mata saya sih, asik-asik aja, tetapi pikiran saya jadi mengelana, bertanya-tanya, yaaaahhhh pokoknya jadi nggak fokus menikmati perjalanan.

 Yup, baliho yang hampir semuanya menampilkan foto para caleg yang tersenyum dengan riasan terbaik, pakaian terbaik, pose terbaik (yang bermacam-macam), ingin merepresentasikan sebaik-baiknya mereka. Jadi ingat, disebuah perempatan, ada juga foto seorang caleg bertopi petani, berpakaian sederhana (T-shirt dan kain sarung), dan memanggul cangkul serta memegang sabit berlatar sawah. Ada pula yang bertelanjang dada, menggunakan udeng, dan kalung motif etnik. Dari semuanya, yang paling menarik saya adalah mimik wajah para caleg ini. Yang menggelitik adalah mimik beberapa caleg yang mengesankan bahwa mereka adalah seorang junjungan, begitu jauh, orang yang seharusnya dihormati. Ada juga yang berpose seperti foto model dan ada juga yang memakai perhiasan gelang emas, cincin emas, kalung emas, yang gedenya sebesar kelingking! (Bikin iri aja,… loohhh?)

 Dan satu lagi yang membuat pikiran saya tercekat, kalau tidak boleh dibilang semua, banyak yang menampilkan juga foto tokoh (dari partainya, bukan partainya, almarhum pahlawan nasional, almarhum ayah), bahkan kadang-kadang lebih besar dari fotonya sendiri. Saya jadi ingat, seseorang pernah berkata, atau saya pernah baca di sebuah buku, saya tidak ingat tepatnya, bahwa seseorang tidak layak disebut pemimpin jika ia memperoleh kedudukannya dengan mengandalkan nama, tindakan, atau menyebut jasa-jasa orang lain, seberapa berhubunganpun ia dengan orang itu. Artinya waktu itu, saat saya mencalonkan diri menjadi ketua BEM, saya tidak pantas menjadi pemimpin jika saya, pada saat kampanye menyebut bahwa saya sudah bertahun-tahun menjadi tangan kanan misalnya ketua BEM terdahulu yang begitu sukses, ganteng, blah, blah, blah… (Saat itu saya kalah oleh sahabat saya, dan saya sangat puas menjadi wakil ketua). Tapi mungkin juga mereka mencantumkan foto sejenis itu karena memang diwajibkan, ga tau lah…

 Ahhh, ngomong-ngomong soal pemilihan ketua BEM dan kepemimpinan saya juga jadi ingat, mentor saya sewaktu kuliah pernah bilang (saya tidak tahu apa ini kata-katanya ataukah orang lain), “Konstituen tidak memilih Visi dan Misi, tetapi memilih orang!” Fiuhhh, pemahaman saya sih, kalau seseorang ada di mimbar, berkoar-koar, maka yang dilihat oleh konstituen adalah posturnya, keyakinan dirinya, ketulusan hatinya, intinya karakternya-lah. Bukan apa yang diomongkannya yang menjadi pertimbangan utama. Berikan visi dan misi yang tidak lebih hebat dari visi dan misi yang paling hebat pada orang yang capable, maka ia akan menjadikannya paling hebat!! Hihihihi, tapi selain berkarakter tentunya calon pemimpin harus cerdas juga seh, misalnya pada saat debat. Tapi banyak kualitas juga yang harus dimiliki seorang pemimpin, kehandalan menghadapi krisis, ketenangan pengambilan keputusan, kepintaran memilih staff, tahan godaan, down to earth, yaaahhhh banyak-lah…

Cukup sudah ngomongin kepemimpinan, sesuatu yang tidak benar-benar saya kuasai, saya balik menikmati perjalanan saja-lah. Ahhh, ada lagi satu hal yang agak mengganggu, rata-rata orang-orang disini (sekitar kota Bangli–PEACE, jangan tersinggung pak, bu) suka mengendarai sepeda motornya di tengah bahu jalan walau kecepatannya cuma 40-50 km/jam. Kalau di klakson, mereka malah menoleh, bukannya minggir. Implikasinya bagi saya yang rata-rata berkecepatan 60-80 km/jam jadi susah (sombongnya), mau nyalip dari arah kiri atau kanan, jelaslah saya tidak mau membuntuti mereka! Hehehehehe, selamat menikmati perjalanan anda, kapanpun, kemanapun, semoga selamat sampai di tujuan… Eh, jadi ingat para pengamen di bus Bali-Jawa yang selalu mendoakan kita sebelum menyanyikan lagunya dan meminta recehan,…Ahhh sudahlah…

Categories: Inside my Thought
  1. February 18, 2009 at 10:47 AM

    kalau orang-orang di sana gimana ya kira-kira?
    ngeliat sawah sawah trus di pinggir jalannya ada baliho gede?
    kayana mereka ga begitu peduli soal itu, yang mereka pikirin pasti panen, ternak, karena itulah hidup yang nyata menurut mereka (mungkin aja kan..)

    hm, bentar lagi saya akan menikmati perjalanan kesana, semoga saya tak menemui baliho yang mengganggu pandang, tapi orang-orang, para petani, dll riang gembira karena panen berhasil, ternak gemuk2, harga barang murah, hehe…

    nice post.. 🙂
    cerita lagi soal perjalanannya ya, hehe

    ititut4rya says:siapa si yang bener-bener merhatiin baliho? mereka sambil lalu aja ngeliatnya. Ya, setuju, mereka tentunya sibuk dg aktifitas masing-masing. Yang deket dg kehidupan mreka sehari-hari… Hehehehe, kalo jalan ke mana aja, pasti nemu baliho sekarang… 🙂
    Makasi

  2. February 18, 2009 at 10:49 AM

    wah, saya akan cari filmnya Sam Kok dulu, ada banyak versi ya, yang paling mantep yang mana kirakira ya…

    ititut4rya says: coba cari Three Kingdoms, yang main Andy Lau, jadi Zhao Zilong, ceritanya tentang Zhao Zilong ini, salah seorang jenderal pasukan Shu Han yang dipimpin Liu Bei. Agak didramatisir siy. Kalo yg lebih akurat, Red Cliff sama Red Cliff 2, yang main Tony Leung (Zhao You) sama Takhesi Kanichiro (Zhuge Liang), ceritanya tentang Battle of Red Cliff atau War of Chibi, dimana pasukan Wei yang dipimpin Cao Cao menyerang koalisi pasukan Shu (Liu Bei) dengan Wu (Sun Quan). Red Cliff udah ada VCD nya, Red Cliff 2 sedang di bioskop…

  3. February 18, 2009 at 3:08 PM

    caleg… capeee deee….

    ititut4rya says: jangan gitu bro, ga semua caleg begitu, siapa tau suatu saat nanti anda menjadi caleg yang benar2 pro rakyat, atau saya mungkin, setelah pensiun… 🙂

  4. February 19, 2009 at 1:35 PM

    three kingdoms sama warlords atau the curse of gloden flower bagusan mana ya…

    hm, kayana harus ada kategori resensi film di blog ini Bli, hehe
    apalagi kalau ada resensi buku-buku yang udah pernah dibaca..

    oya, norwegian wood haruki murakami menurut bli gimana?

    🙂

    ititut4rya says: Seingat saya warlords dan curse of the golden flower bukan tentang Sam Kok, walau keduanya film yg bagus. Warlords bertabur bintang dimana Jet Li memperoleh penghargaan aktor terbaik bersaing dg Andy Lau, dan CotGF penuh intrik politik dalam istana dengan penyajian yang indah dilengkapi pertempuran yang kolosal. Ketiga-tiganya bagus koq, layak ditonton. Tapi yang paling unik dan berkesan menurut saya Curse of The Golden Flower, oya dlm film ini memang ada pemberontakan dimana pemberontaknya menggunakan scarf warna kuning, mengingatkan pada Yellow Turban Rebellion pada Sam Kok.
    Resensi ya, hmmm, kepikiran siy, makasi motivasinya… I will work on it soon… 🙂
    Sejujurnya saya belum pernah baca norwegian wood, trus barusan sempat liat ke wikipedia, hehehehehe, kayanya bukan tipe bacaan yang saya nikmati deh, jadi saya ga bisa ngasi pendapat…maaf

  5. surya
    February 19, 2009 at 7:55 PM

    wihiii….maw jd caleg,ya?? boleh…boleh…punya temen pejabat deh…:D
    seperti biasa ya. Kmu always under-estimate yourself, padahal menurut aq kmu punya modal besar, sangat besar malah untuk jadi blogger hebat nantinya…cuma masalah waktu dan KONSISTENSI! sesuatu yg aq g punya…
    sebenernya aq pengen komen banyak..tapi u know-lah..malas nulis gitu loh…soalnya tulisan g bisa didenger…sedangkan aq pengennya didengerin..huehehe

    hmmm palagi ya? err, mang kmu seneng jadi wakil? hehe…

    *oia kmu jd kaya gede prama y? pejalan kaki menuju keheningan (pejalan kaki = tiap hari kamu di jalan, keheningan = bangli town)…haa..PEACE

    ititut4rya says: Akhirnya, salah satu tokoh dalam cerita muncul untuk berkomentar :), kali ini ceritanya non fiksi Sur, jadi aku memang merasa senang menjadi wakil ketua waktu itu, repeatedly i think (till now), syukur bukan aku ketuanya, i was emotionally unprepared (not mature enough). And when it’s all over, i know i learn soooo much, what about you? Haha…
    Ya, tentang under-estimating, hmmm, let me think, (cling!) mungkin ada benarnya! Hehehehe, thank’s for da support.
    Yeah, i know, talk NOW-respond NOW, expression, debate, laugh, emotion, tulisan kadang kurang hal-hal seperti itu,… am i a good listener? Hahahaha, jadi inget, kadang kamu bilang, “kamu denger aku gak Ya?” ato, “Are you still there?” 🙂 Hmm, jadi pengen nulis tentang persahabatan kapan-kapan…
    Makasi Sur, komen trus ya, di blog ini. Supporting me!

    *yeah, bangli is beautiful, beauty in silence, makanya gde prama pulang kampung…

  6. Chandra Yudha Sutrisno
    March 26, 2009 at 10:14 PM

    hari ini di bali nyepi yah…
    saya kebetulan tidak memasang penutup2 untuk menghalangi cahaya keluar, karena memang malas…

    tapi pas nyoba keluar bareng “pecalang”, ngeri juga gelap gulita!
    hehehe…

    ititut4rya says: ya, begitulah nyepi…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

<span>%d</span> bloggers like this: