Home > Fiction > Bata dan Kata (Concluded)

Bata dan Kata (Concluded)

Saya menoleh dan menemukan kakak itu menatap langsung ke mata saya, dan dalam jarak sedekat ini saya merasa tatapan itu begitu hangat alih-alih menyelidik. Kacamata itu sudah dilepas, tetap saja saya perlu waktu untuk mencerna wajah yang ada di hadapan saya sekaligus apa yang dikatakannya. Apa benar ia kakak yang telah mengantar saya ke sekolah pada hari pertama saya masuk SMP hampir 2 tahun lalu? Apa benar ia yang selama ini saya tunggu-tunggu dan telah memenuhi pikiran serta beberapa mimpi saya? Yang memberi tekad perubahan saya ribuan nyawa yang menghidupi ketika kegagalan selalu datang pada semangat rapuh saya?

“Niki jajane gus (Ini kuehnya nak)”,  Nenek Nyoman menyadarkan saya dari lamunan.

Membayar, kemudian memutuskan mengikuti kakak itu ke arah mobilnya. Di ambang pintu mobilnya saya tertegun. Kenapa saya bisa semudah ini mengikuti ajakannya? Apakah ini perasaan yang sama ketika pertama kali kami bertemu? Ketika saya didorong oleh rasa penasaran dan lalu mau dibonceng motor bututnya hampir dua tahun lalu? Apakah ini rasa penasaran yang sama? Lalu apa? Apa saya akan menanyakan sesuatu nantinya? Apa saya akan memperoleh jawaban yang saya inginkan? Tidakkah seluruh pondasi cita-cita yang saya bangun atas bayangan saya tentang dia nantinya akan runtuh jika mengetahui kebenaran tentang dia? Mungkin saja begitu bukan? Mungkin saja dia tidak seperti yang saya elu-elukan selama ini, atau mungkin saja dia tidak sesempurna yang saya bayangkan. Mungkin saja malah bayangan saya tentang dia sama sekali salah, dan itu akan menghancurkan saya!

Dan akan lebih baik jika saya tidak bertemu dengan kakak itu! Akan lebih baik jika saya hanya bertemu dengan bayangan tentang dia, seseorang yang ideal, seseorang yang saya ingin menjadi. Bertemu dengan dia sebagai manusia akan memberi keraguan. Karena manusia tidak sempurna. Manusia pernah jatuh. Manusia berbuat kesalahan. Manusia pernah gagal. Manusia memiliki sisi gelap. Manusia tidak selamanya menyenangkan. Tidak ada satu manusia pun yang memiliki jawaban atas pertanyaan saya tentang siapa saya sesungguhnya. Tidak kakak ini!

Saya putuskan untuk mematung. Tetapi ketika pintu depan mobil terbuka, dan senyum yang begitu mengundang, kaki, tubuh, kepala, tangan saya luluh. Saya masuk kesana. Saya tak habis pikir! Begitu kharismatik-kah ia? Atau saya hanya tertipu oleh pikiran saya sendiri?

Mobil berjalan. Saya putuskan untuk diam. Dan radio melantunkan sebuah lagu. Lalu dua, dan saya sudah sampai di depan SMP saya. Sesaat saya berpikir dia akan menepi, lalu bertanya-tanya kata-kata apa yang akan ia ucapkan kali ini. Dan apapun itu, saya sudah siap untuk hanya tersenyum dan melambai dan tidak mengatakan sampai jumpa lagi. Saya sudah puas untuk bertemu dengannya untuk terakhir kalinya saat ini, dan tidak bertanya apapun, tidak mendengar jawaban apapun, hanya gumamannya yang mengikuti nada lagu.

Tapi dia tidak berhenti. Saya melihat ke arahnya, dia tidak sedang melamun. Dia menekan pedal gas dalam, menyentakkan punggung saya ke jok mobil, dan pikiran saya ke pemandangan di depan kami. Mobil truk di depan kami, sejalur. Dan sebuah mobil SUV mewah berjalan cepat di jalur yang berlawanan. Ia jelas telah mengambil ancang-ancang, tetapi saya tidak jelas apa maksud semua ini. Dia menyalip truk itu, membuat mobil ini berhadap-hadapan dengan SUV itu, dan saya sempat melihat speedometer. Hampir 100 km/jam! Saya memejamkan mata dan tidak ingin melihat apa yang terjadi selanjutnya.

Jantung saya berdebar kencang, tiba-tiba saya dapat merasakan denyut nadi saya, merasakan keringat keluar dari pori-pori kulit saya. Lalu pikiran saya seperti tersedot ke masa lalu. Saya merasakan teror yang sama ketika sebuah sepeda motor menyerempet saya 8 tahun yang lalu. Lalu bayangan-bayangan berkelebat, seperti lembaran komik yang dibuka dengan cepat. Saya mengingat masa kecil saya. Saya mengingat masa-masa nakal saya, mengingat bagaimana saya mengganggu tidur kakak saya untuk mengajaknya sekedar bergulat, terbayang jelas di depan mata saya. Kenangan-kenangan yang sudah lama dorman di bawah sadar saya seperti bangkit dari kuburnya.

Dan ketika membuka mata, seketika saya berteriak penuh ekstase, tepat ketika mobil kami menyelinap diantara himpitan SUV dan truk itu. Ada segaris senyum di bibir kakak itu. Hanya segaris. God! Oh God, apa yang telah terjadi ini? Saya tidak bisa mencernanya, jantung saya masih bergemuruh dan keringat membasahi kedua telapak tangan saya. Mencoba untuk menenangkan diri, saya mengatur napas saya pelan-pelan. Lalu merasakan ada rasa perih di ulu hati saya. Saya punya mag, dan kombinasi tidak sarapan pagi ini dan apa yang baru saja terjadi tidak ragu membuat banjir asam di lambung saya. Saya memejam lagi, seandainya saya membawa antasida.

Lalu tiba-tiba kami sudah berbelok memasuki sebuah areal bangunan yang begitu luas, taman yang luas, kolam, beberapa bangunan besar, dan tiang bendera. Ini jelas fasilitas milik pemerintah. Saya tidak sempat membaca papan namanya. Kami masuk lebih dalam, dan di sayap kanan bangunan utama, di depan sebuah bangunan yang menyerupai rumah, kami berhenti. Kakak itu keluar, saya keluar. Menghirup udara sebentar, terasa tidak asing. Memandang sekeliling, orang-orang berpakaian putih-putih, seragam pegawai negeri, dan beberapa orang berpakaian dan berperilaku tidak biasa. Apa ini Rumah Sakit Jiwa? Apa saya sudah gila?

Ohhh, dan kakak itu masuk ke bangunan seperti rumah ini. Mematung sebentar, dengan langkah ragu saya ikut masuk. Kenapa ruangan ini juga tidak terasa asing? Ugh, kepala saya tiba-tiba pusing, dan perut saya seperti ditonjok oleh sebuah balok. Sebelum saya sempat mengerang kesakitan, kakak itu sudah keluar lagi, mengenakan jas lengan panjang berwarna putih. Ya, kenapa saya lupa dengan analisa saya, dia dokter! Dan sekarang kakak itu berjalan setengah berlari ke arah bangunan utama. Saya mengikuti, walau dengan kepala, hati dan kaki yang terasa begitu berat.

Kakak itu masuk dalam sebuah ruangan. Sekelebat saya membaca P-O-L-I-K-L-I-N-, ah, siapa peduli, kakak itu sudah duduk disana, menghadapi seseorang. Mungkin pasien. Dengan sisa tenaga, saya mendekat, pelan, tenggorokan saya terasa tercekat, keringat mengalir, dan muka saya mestinya pucat. Sebelum terjatuh, saya mencoba berteriak. Tapi kenapa tidak ada yang peduli? Terengah-engah sebentar, saya bangkit lagi. Tidak. Saat ini saya tidak mampu berdiri, saya merangkak. Pasien di depan kakak dokter itu sudah tidak ada lagi. Dan saya pun duduk, berhadap-hadapan dengannya, dalam posisi kami dapat saling pandang.

“Kakak ini siapa?” Saya mencoba bertanya dengan napas satu-satu, “Apa hubungan kakak dengan saya dan kenapa saya dibawa kesini?”

Tidak ada jawaban. Kami berpandangan.

“Kakak siapa?” Saya mulai menangis. Saya rasa saya mulai putus asa.

“Apa kamu tahu siapa dirimu?” Kakak itu menjawab, dan entah kenapa wajahnya mengekspresikan apa yang saya rasakan!

Saya memejam, dan dada saya menjadi sesak, “Sebaiknya aku kembali pada Kata”, kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut saya.

Perlahan saya merasakan detak jantung saya, mendengar napas saya, keluar dan masuk melalui hidung saya. Benar-benar merasakan kehidupan di dalam diri saya. Sensasi hangat yang menjalar di telapak tangan kanan, lalu tangan kiri, kaki kanan, kaki kiri, punggung, saya merasakan keberadaan diri saya. Disini. Sekarang.

“Dok, ini terapinya lanjut ya?” Tersentak, dan saya kembali pada realita. Pada cahaya. Pada orang-orang di sekeliling saya.

“Ya, selama ini keadaannya membaik, kan? Dan tidak ada keluhan tentang efek samping, toh?” Saya tersenyum pada salah seorang adik kelas saya. Mengecek resep yang ia tuliskan, menandatangani, dan menuliskan nama saya.

dr. Kata. 

Categories: Fiction
  1. February 14, 2009 at 12:07 PM

    Akhirnya saya berhasil menyelesaikan Bata dan Kata. Pada awal saya meniatkan untuk menulis cerita ini, endingnya tidak seperti ini. Trus, tentang apakah cerita ini benar-benar fiksi, oke, memang ada kejadian, lokasi dan benda yang nyata ada, tapi secara keseluruhan cerita ini hanya fiksi. Mungkin agak aneh ya, keseluruhan cerita ini, agak gak nyambung,tapi saya harap pembaca dapat menikmatinya. Makasih…

  2. jer
    February 14, 2009 at 4:16 PM

    wuih.. memang anda dr. Kata Pak Arya, lalu saya pasien Kata, maka tolong jelaskan sekarang.. sy sudah baca, tp sy perlu resume cerita dr anda dr. Kata,hehehe

    ititut4rya says: ceritanya fiksi jer, intinya ceritanya fiksi… suerrr neh FIKSI… emang kamu sakit apa Jer? Resume…, setting-nya present day, si Kata suka ngelamun, pikirannya kemana-mana, nyampur-nyampur antara kenyataan ama khayalan utopia, masa lalu juga masa depan, dan akhirnya kembali ke masa sekarang, masa sekarang segalanya kan, Jer? 🙂 Makasi…

  3. February 15, 2009 at 12:00 AM

    menikmati membacanya..emang tadinya ada ending pilihan lain y? hehe :)tp maSIh ingin dengar cerita dr.Kata selanjutnya.. selamat nge-Blogging! ^^

    ititut4rya says: Makasi wie, endingnya mirip-mirip gini juga, tapi lebih belibet, jadi saya pilih ini aja…, 🙂 Cerita Bata dan Kata segini dulu, mau kasi kesempatan cerita yang lain-lain, Makasiiii…

  4. February 15, 2009 at 12:45 PM

    hmm, saya jadi inget O Henry,,,

    selamat!

    ditunggu cerita selanjutnya : )

    ititut4rya says: O Henry? Mmm, tanya Tante Wiki dulu…, Wow…Wow…Wow…, Wah, pengennya si kaya gitu…hebat bgt dia ya…Hmmm, saya mah bukan apa-apa. Makasi… Ya, tunggu aja, Makasi lagi 🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

<span>%d</span> bloggers like this: