Home > Fiction > Bata dan Kata 3 (still cont.)

Bata dan Kata 3 (still cont.)

Lanjutan dari Bata dan Kata 2…

Jadi saat tamat SD saya telah mencanangkan sebuah perubahan yang akan saya lakukan saat menempuh jenjang SMP nanti. Saya ingin lebih gaul, saya ingin menjadi teman bagi siapa saja. Saya ingin berjalan bersama teman-teman saya saat berangkat maupun pulang dari sekolah. Menghabiskan waktu istirahat dengan nongkrong di kantin, atau tertawa-tawa di depan kelas cewek-cewek populer di sekolah (saya dengar kakak saya sering melakukan hal ini). Membayangkannya saja membuat saya tersenyum dan memberi mimpi yang indah.

Hari pertama masuk SMP. Saya ingat pagi itu bangun dengan begitu semangat, mandi pada pukul 5 pagi, membantu menyiapkan sarapan bersama ibu (walau ia berkali-kali mengusir saya dari dapur, saya tetap tersenyum-senyum dan memaksa mengerjakan apa saja), sarapan dengan lahap sambil memandangi wajah setiap orang yang hadir di meja makan dengan berbinar-binar, terutama kakak saya. Tatapan yang membuatnya mengerutkan kening dan matanya nanar menatap sekeliling, ke bawah meja, bangun dan memeriksa kursi duduknya, membaui makanan di depannya, takut ia dijaili oleh saya. Ia balas memandangi saya, meneliti wajah saya, mencari yang aneh di diri saya. “Hey dik, itu kan baju SMU kakak yang kamu pake, bukan baju SMP!”, dan ia benar. Muka saya merah, seluruh keluarga di meja makan terkakak-kakak.

Insiden meja makan tidak membuat keceriaan saya menguap. Tetapi jalanan. Keluar dari rumah, saya berjalan santai, menoleh ke belakang dan tidak melihat seorang pun memakai putih biru, melompat, mencoba melihat melewati jalan yang menanjak, terlihat segerombolan teman bercanda ria. Saya berjalan tergesa, berlari sesekali, melompat lagi sambil berteriak memanggil mereka, lalu terperosok. Ahh, lubang ini. Normalnya setiap orang di desa sudah mengenal lubang ini, semua pernah jatuh, tetapi tidak dua kali. Dan pertama kali saya jatuh ke lubang ini adalah hari pertama saya masuk SD.

Tiba-tiba seseorang menghentikan sepeda motornya di tepi jalan. Turun, lalu mengulurkan tangannya tanpa kata-kata. Mengenakan helm full face yang tidak mengizinkan saya melihat wajahnya, ia menarik saya segera setelah saya memegang tangannya. Menepuk-nepuk celana, saya melihatnya naik kembali ke sepeda motornya, sekali lagi tanpa bicara, menyalakan motornya dengan starter kaki. Setelah beberapa kali tendang, motor itu pun menggeram. Memandangi saya, saya tidak pasti apakah saya melihat senyum, lalu ia menepuk jok di belakangnya sekali. Saya tahankan posisi saya, lalu ia melambaikan tangannya mengundang saya naik di boncengannya. Mungkin rasa penasaran yang mendorong saya saat itu, ketika tiba-tiba motor itu sudah melaju dan saya ada di atasnya.

Dia mengendalikan sepeda motornya santai, sambil bersenandung dan melihat ke kiri-kanan jalan, pejalan kaki, pedagang jajan bali, pasar, pohon beringin, rumah yang unik, lalu ia tepat berhenti di depan SMP saya. Ia menunggu saya turun, melambaikan tangannya, “Salam buat teman-teman barumu ya.”

Saat ini, sudah hampir 2 tahun sejak perkenalan kami yang begitu provokatif. Provokatif? Karena sejak saat itu saya tidak bisa berhenti memikirkan kakak itu. Awalnya saya pikir kesan saya terhadapnya akan terjun ke jurang gelap keacuhan didorong oleh waktu. Tetapi dimulai dengan menganalisa stiker Fakultas Kedokteran yang tertempel di sayap belakang motornya, sampai dengan bagaimana kira-kira sifatnya, pikiran saya seperti mengalir melawan keinginan saya. Setiap hari, walau saya menyamarkannya, saya selalu ingin bertemu dengannya di jalan. Sampai-sampai saya sempat terjatuh kembali ke lubang itu, sambil berteriak, dengan sengaja.

Jadi hasil analisa saya, …. To be continued

Categories: Fiction
  1. rastiti
    February 3, 2009 at 7:14 AM

    hmmm, yayaya…

    btw, kapan2 tukeran koleksi buku ya…

  2. rastiti
    February 6, 2009 at 1:21 PM

    “Tetapi dimulai dengan menganalisa stiker Fakultas Kedokteran yang tertempel di sayap belakang motornya, sampai dengan bagaimana kira-kira sifatnya, pikiran saya seperti mengalir melawan keinginan saya”

    Hm, saya jadi ingat sebuah film…

  3. ititut4rya
    February 7, 2009 at 9:02 PM

    Tukeran koleksi buku ya… boleh-boleh aja, tapi banyak buku saya yang sudah saya baca entah kemana, dipinjem temen dan belum dikembalikan, dibaca oleh ibu saya di kampung, trus yang sekarang ada di rak buku saya, 90% belum dibaca ampe habis…hehehe, gini aja, kapan2 kalo kita ada acara bareng, masing-masing bawa buku bwt dituker…

    Pilem apaan? Jadi penasaran…

  4. February 8, 2009 at 2:09 AM

    oliver twist, hehehe

    ok, nanti saya bawakan salah satu buku favorit saya,,, semoga belum pernah baca biar saya ga rugi bawain, hehe

    ititut4rya says:wuw, buku favorit, thx alot…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

<span>%d</span> bloggers like this: