Home > Fiction > Bata dan Kata-2 (cont.)

Bata dan Kata-2 (cont.)

Penting: lanjutan dari Bata dan Kata, untuk kenyamanan anda, silahkan baca terlebih dahulu Bata dan Kata

Tetapi, saya tidak yakin, apakah kecelakaan itu sebuah musibah atau anugerah.  Saya jadi lupa tentang semua kenakalan saya, saya lupa selalu memukul siapapun jika sedang marah, mengancam akan merusak sesuatu jika keinginan saya tidak dipenuhi, atau menangis keras-keras jika coba dinasehati ketika tidak mau meminta maaf setelah mencelekai teman main. Alih-alih, saya jadi senang membuka-buka ensiklopedi bergambar yang sudah lama parkir di rak, meneliti koleksi filatelli, menonton saluran televisi edukasi, menawarkan diri untuk ‘mebanten’ setiap hari dan menikmati berbelanja ke pasar setiap pagi.

Kelas 2 SD saya sudah lancar membaca koran dan selalu berkunjung ke perpustakaan sekolah saat jam istirahat. Kelas 3 saya memaksa untuk dibolehkan membawa pulang koleksi perpustakaan yang tidak boleh dipinjam. Kelas 4 SD saya sudah habis membaca seluruh koleksi perpustakaan yang hanya 5 rak itu (maklum sekolah desa). Kelas 5 SD saya membaca koleksi novel-novel ayah dan ibu saya (mereka penggemar novel berlatar sejarah Jepang dan Cina). Kelas 6 SD saya sudah memohon kakak saya untuk membawakan saya buku-buku dari perpustakaan SMA-nya (umur saya dan kakak bertaut 4 tahun).

Selain membaca, hobi saya bersepeda ke pantai yang jaraknya kira-kira 10 km dari rumah. Menempuh jalan berliku sambil menikmati lembut matahari sore. Berjemur, mengubur kaki di pasir, membuat bentuk dengan pasir basah, berenang bersama ombak. Lalu pulang sebelum matahari terbenam. Kadang singgah di lapangan desa tetangga, melihat orang-orang bermain bola, meminjam semangat untuk menempuh jalan menanjak.

Saya sadar teman-teman sekelas mendekat jika ada pekerjaan rumah yang sekiranya susah, atau ketika akan ada ujian tulis esok. Saya tahu, bahkan tampang-tampang polos itu pun menyimpan kelicikan untuk hanya memanfaatkan saya. Tidak ada yang benar-benar peduli untuk menerjemahkan ekspresi sedih saya, tidak ada yang mengerti isyarat tubuh kegelisahan saya. Mereka hanya sibuk bermain sesama mereka ketika PR dan ujian tulis telah usai.

Jadi saat tamat SD saya telah mencanangkan sebuah perubahan yang akan saya lakukan saat menempuh jenjang SMP nanti… to be continued 

Categories: Fiction
  1. February 8, 2009 at 2:12 AM

    “Jadi saat tamat SD saya telah mencanangkan sebuah perubahan yang akan saya lakukan saat menempuh jenjang SMP nanti”

    Hm,, tidak gampang sepertinya untuk saya memutuskan berubah, lebih tidak gampang lagi saat saya menyadari usaha yang saya lakukan untuk berubah ternyata sia-sia… T.T

    ititut4rya says:agaknya tokoh ini mampu berubah, itu bagus kan? Ya,bertahun-tahun yang lalu, berulang kali saya ingin berubah, tetapi tidak pernah tercapai sesuai yang saya inginkan (sekarang-sekarang pun masih begitu). Tetapi kalau saya alami, bahkan keinginan berubah yang berulang-ulang terus dinyatakan, dan diberi semangat dengan terus diupayakan, bagaimanapun nampaknya itu tidak berhasil, ada hasilnya. Coba deh, liat lagi, pasti ada perubahan kok, walau sedikit, dari apa yang sudah diusahakan. Kalau udah ketemu, lanjutkan lagi…Smangat!!!

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

<span>%d</span> bloggers like this: